![]() |
| Kepala Taman Budaya bersama kurator menyaksikan pameran Belian 10/1/2026.(Foto:AS) |
SAVANANEWS, Mataram — Dari ruang Galeri Pameran Taman Budaya NTB, Pasir Putih mengajak publik membaca kembali Belian—bukan semata sebagai ritual penyembuhan, melainkan sebagai pengetahuan hidup yang tumbuh dari ingatan, pengalaman tubuh, dan relasi kosmologis masyarakat Sasak. Pameran ini berlangsung selama satu minggu, mulai 10 Januari 2026.
Pameran Belian lahir dari proses riset panjang yang dikerjakan oleh kurator Muhammad Sibawaehi bersama para partisipan selama kurang lebih satu tahun. Proses tersebut menjadikan praktik belian sebagai medan pengamatan, pengalaman, sekaligus tafsir artistik yang berpijak pada kehidupan sosial masyarakat Sasak, khususnya di Lombok Utara.
![]() |
| Suasana Pengunjung Pameran menyaksikan dan mendengarkan penjelasan tentang berbagai tenaman yang biasa di gunakan oleh seorang Belian 10/01/2026.(Foto:AS) |
Perwakilan Pasir Putih, Muhammad Gozali, menyampaikan bahwa riset merupakan fondasi utama dalam setiap kerja kreatif yang dilakukan kolektif ini.
“Proses kreatif Pasir Putih selalu berpola riset. Pada pameran Belian ini, riset telah dilakukan kurang lebih satu tahun oleh Sibawaehi dan teman-teman,” ungkapnya.
Bagi Gozali, Belian bukanlah tema yang jauh dari keseharian. Ia tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan praktik belian menganak, sehingga pameran ini juga menjadi ruang pembacaan ulang atas pengalaman personal dan kolektif.
“Apa yang kami angkat selalu dekat dengan kehidupan sosial masyarakat Sasak, terutama di Lombok Utara. Belian bagi saya adalah sesuatu yang sejak kecil sudah dekat,” katanya.
Pameran ini difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui LPDP Dana Indonesiana, serta mendapat dukungan penuh dari Taman Budaya NTB sebagai ruang penyelenggaraan.
Kepala Taman Budaya NTB, L. Surya Mulawarman, menyambut baik pameran ini sebagai bagian dari komitmen lembaganya dalam mendukung kerja-kerja kreatif generasi muda.
“Taman Budaya NTB selalu membuka diri untuk kegiatan seni rupa, pameran, seni pertunjukan, dan berbagai bentuk kreativitas anak muda,” ujarnya.
Sebagai seorang koreografer, Surya Mulawarman melihat Belian sebagai konsep yang sarat pengalaman tubuh dan spiritualitas. Ketika Belian dihadirkan dalam ruang pamer, menurutnya, terdapat kemungkinan tafsir baru yang menarik untuk diselami.
“Belian dalam seni pertunjukan adalah ritual penyembuhan. Ketika diangkat ke ruang pamer, tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda dan mendalam,” tambahnya.
Sementara itu, kurator pameran Muhammad Sibawaehi menegaskan bahwa Belian dalam pameran ini tidak ditempatkan sebagai objek statis, melainkan sebagai praktik hidup yang terus bergerak.
“Belian kami posisikan sebagai medan pengalaman yang hidup—di mana tubuh, ingatan, praktik, dan relasi kosmologis terus dinegosiasikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, karya-karya yang dipamerkan bergerak di antara tradisi dan tafsir kontemporer, membuka ruang dialog yang jamak dan terbuka bagi publik.
“Belian dipahami sebagai praktik hidup yang dijalani dan diwariskan, sekaligus ruang tafsir yang terus diperbarui oleh pengalaman dan konteks sosial,” pungkas Sibawaehi.
Melalui pameran Belian, Pasir Putih tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga mengajak pengunjung untuk menyelami kembali cara masyarakat Sasak memaknai sakit, penyembuhan, ingatan, dan hubungan manusia dengan semesta—dalam bahasa seni yang reflektif dan
kontekstual.(AS)


0 Comments