Tradisi Ngayu Ayu Tetap Dilestarikan, Gubernur NTB: Wujud Syukur dan Harmoni Alam
SAVANANEWS - Tradisi Ngayu Ayu digelar setiap tiga tahun sekali. Rangkaian prosesi dimulai dengan pengambilan air dari 13 mata air oleh para pemangku adat Sembalun, yang kemudian dikumpulkan di berugak Desa Sembalun Bumbung.
Selanjutnya, dilakukan pembacaan lontar oleh para pujangga Sasak, serta sesampang atau pemberitahuan spiritual kepada leluhur dan penjaga alam. Ritual dilanjutkan dengan penyembelihan kerbau, di mana kepala kerbau dikuburkan sebagai pantek (pasak bumi) sebagai simbol pengokohan wilayah Sembalun dan Lombok Timur.
Keesokan harinya, air dari berugak dibawa menuju lapangan upacara oleh para tokoh adat dan masyarakat, diiringi tarian Tandang Mendet. Prosesi puncak disebut Mapakin, diawali dengan silaturahmi para sesepuh adat dan tamu undangan dari berbagai daerah di Nusantara.
Tiga kali lemparan ketupat menjadi simbol kesempurnaan salat lima waktu, kesempurnaan bulan purnama, dan jumlah 25 nabi dan rasul. Prosesi diakhiri dengan Perang Pejer, ritual tolak bala, dan penumpahan air ke Kali Pusuk sebagai lambang penyatuan unsur alam: bumi, air, hutan, dan kehidupan.
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, menyambut baik pelaksanaan upacara adat Ngayu Ayu, tradisi sakral masyarakat adat Lombok, khususnya di wilayah Lombok Timur. Kehadirannya bersama Ketua TP PKK NTB dan sejumlah kepala perangkat daerah, seperti Kadis Kominfotik NTB H. Yusron Hadi, menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian budaya daerah.
“Ngayu Ayu adalah wujud syukur atas kemakmuran dan kesejahteraan yang dianugerahkan Allah SWT, serta bentuk penghormatan kepada Gunung Rinjani. Ini juga mencerminkan upaya menjaga keseimbangan alam yang harus terus kita lestarikan,” ujar Gubernur yang akrab disapa Miq Iqbal saat memberikan sambutan di Sembalun, Kamis (17/7/2025).
Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, dalam sambutannya menegaskan bahwa Ngayu Ayu bukan sekadar seremoni budaya, melainkan sarat makna, doa, dan tuntunan hidup. Ia berharap generasi muda dapat memahami dan melanjutkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi tersebut.
“Tradisi ini menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan segala isinya. Ini adalah bagian dari warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan,” katanya. Bupati juga mengapresiasi masyarakat yang terus menjaga kearifan lokal dan adat istiadatnya.
“Atas nama Pemerintah dan masyarakat Lombok Timur, saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang hadir, termasuk Bapak Gubernur, masyarakat adat, serta para raja dan ratu dari berbagai daerah di Indonesia yang dengan khidmat mengikuti prosesi ini,” tambahnya. (Red)
0 Comments