
Penyerahan Sepeda oleh Kepala SMP Negeri 4 Kuripan, H. Mohammad Wajdi, M.Pd., kepada siswa
SAVANANEWS – Upaya menuntaskan masalah Anak Putus Sekolah (ATS) dan Anak Berisiko Putus Sekolah (ABPS) di Kabupaten Lombok Barat kini mendapat perhatian serius dari dunia pendidikan. Salah satu gebrakan datang dari Kepala SMP Negeri 4 Kuripan, H. Mohammad Wajdi, M.Pd., yang menggagas program inovatif melalui pendekatan 4 Si: Relasi, Komunikasi, Kontribusi, dan Kolaborasi.
Inovasi ini diluncurkan tidak hanya sebagai bentuk tanggung jawab moral seorang kepala sekolah, tetapi juga untuk mendukung program prioritas Bupati dan Wakil Bupati Lombok Barat dalam menuntaskan persoalan ATS dan ABPS. Program tersebut bahkan selaras dengan arah kebijakan pemerintah pusat, yang pada tahun 2025 mendorong gerakan penuntasan ATS dan ABPS melalui lomba video inspiratif.
Pendekatan 4 Si: Langkah Sistematis dan Humanis
H. Wajdi menjelaskan, keberhasilan dalam menangani anak yang berisiko putus sekolah tidak bisa dicapai dengan pendekatan sepihak. Butuh sinergi dari berbagai elemen masyarakat. Karena itu, ia merumuskan langkah-langkah konkret dalam bentuk pendekatan 4 Si.
1. Relasi – Membangun jaringan dengan wali kelas, komite sekolah, pemerintah desa, dan dunia usaha. Dengan relasi yang baik, semua pihak dapat duduk bersama untuk memikirkan solusi nyata bagi siswa.
2. Komunikasi – Menjalin diskusi aktif dengan stakeholder agar setiap permasalahan siswa ABPS dapat diidentifikasi sejak awal dan dicarikan jalan keluar yang tepat.
3. Kontribusi – Menunjukkan peran dan pengorbanan nyata dari pimpinan sekolah. Kepala sekolah harus menjadi teladan dalam memberikan kontribusi awal, sehingga mampu menginspirasi stakeholder lain untuk bergerak.
4. Kolaborasi – Setelah kontribusi nyata ditunjukkan, barulah kerja sama dibangun secara kolektif. Kolaborasi ini bukan hanya sebatas ajakan dengan kata-kata, melainkan aksi nyata yang melibatkan seluruh elemen.
![]() |
| Dukungan Stakeholder Desa |
Langkah ini mendapatkan dukungan penuh dari Kepala Desa Jagaraga, Muhammad Hasyim, S.T., yang melihat pentingnya sinergi antara sekolah dan pemerintah desa. Pihak desa turut memfasilitasi koordinasi, sekaligus membuka peluang dukungan dari dunia usaha lokal untuk membantu siswa-siswa yang kurang mampu.
“Masalah anak berisiko putus sekolah bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga pemerintah desa dan masyarakat. Melalui pendekatan ini, kami bersama-sama berkomitmen menjaga agar anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikannya,” jelas Hasyim.
Hasil Nyata di Lapangan
Implementasi pendekatan 4 Si mulai menunjukkan hasil positif. Beberapa siswa yang sebelumnya hampir menyerah melanjutkan pendidikan karena kendala jarak rumah yang mencapai lebih dari dua kilometer berjalan kaki tanpa bekal, kini kembali bersemangat masuk sekolah. Dukungan moral dan material dari stakeholder, hasil kolaborasi 4 Si, membuat mereka merasa diperhatikan dan tidak sendirian.
Kepala sekolah menuturkan, keberhasilan ini ibarat “Cahaya di Ujung Gelap”, yang menyalakan kembali semangat anak-anak untuk menggapai masa depan melalui pendidikan.
“Anak-anak ini sebenarnya punya semangat, hanya saja terkendala faktor ekonomi dan jarak. Dengan pendekatan 4 Si, kita mencoba hadir memberikan solusi. Kami tidak ingin ada anak yang kehilangan haknya untuk sekolah hanya karena persoalan sederhana,” tegas H. Wajdi.
Menjadi Inspirasi Nasional
Keberhasilan SMPN 4 Kuripan dengan program 4 Si tidak hanya penting bagi Lombok Barat, tetapi juga bisa menjadi model inspiratif nasional. Di tengah upaya pemerintah pusat menekan angka ATS dan ABPS, inovasi berbasis kolaborasi ini dapat direplikasi oleh sekolah-sekolah lain di berbagai daerah.
H. Wajdi berharap, ke depan semakin banyak pihak yang ikut ambil bagian. “Kalau sekolah dan pemerintah saja yang bergerak, hasilnya tidak maksimal. Tapi jika masyarakat, komite, desa, dan dunia usaha ikut terlibat, maka kita bisa bersama-sama menyelamatkan generasi masa depan,” ujarnya.
Harapan ke Depan
Program ini diharapkan dapat berkelanjutan, bukan sekadar sesaat. Dengan dukungan pemerintah Daerah, Desa, serta partisipasi masyarakat, pendekatan 4 SI diyakini mampu menurunkan angka ABPS secara signifikan di Lombok Barat.
Langkah SMPN 4 Kuripan menjadi bukti bahwa inovasi yang sederhana namun tepat sasaran dapat membawa perubahan besar. Bahwa pendidikan bukan hanya tugas guru dan sekolah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. (Red)

