![]() |
| Foto Bersama Pembukaan Pameran Seni Rupa (Dok.Taman Budaya NTB) |
SAVANANEWS, Mataram—Pameran seni rupa “Kronik” resmi hadir pada hari kedua gelaran Pesta Seni NTB 2025, menandai babak penting dalam upaya memperkuat ekosistem seni rupa daerah. Bertempat di Galeri Seni Rupa Taman Budaya NTB, pameran ini dibuka oleh Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, Lalu Abdurahim, Sabtu (29/11).
Lebih dari sepuluh perupa ambil bagian, menghadirkan ragam karya yang memperkaya lanskap ekspresi visual dalam perhelatan seni tahunan tersebut. Sebagai program resmi Pesta Seni NTB, “Kronik” dirancang tidak hanya sebagai etalase karya, tetapi juga sebagai ruang inklusif bagi perupa untuk memperlihatkan proses kreatif dan refleksi artistik mereka.
![]() |
| Kabid Kebudayaan Dikbud NTB saat membuka dan melihat langsung Pameran Seni Rupa (Dok.TB) |
Kasi Penyelenggaraan Seni Budaya Taman Budaya NTB, I Nyoman Gde Adimusti TBL, S.Sn, mewakili Kepala Taman Budaya NTB, menyebut bahwa pameran ini merupakan upaya memperkuat jejaring antar seniman serta mempererat hubungan antara seniman dan publik.
“Pameran ini tidak hanya menampilkan hasil akhir sebuah proses, tetapi juga mengungkapkan spirit perjalanan yang penuh eksplorasi dan refleksi para seniman Nusa Tenggara Barat,” ujar Adimusti.
Mengusung tema “Lintasan Sebuah Perjalanan,” pameran “Kronik” ingin membuka ruang apresiasi, dialog, sekaligus pengembangan bagi para perupa NTB. Tema ini juga menjadi refleksi atas dinamika seni rupa daerah, yang terus tumbuh melalui keberagaman gagasan dan pendekatan visual.
Taman Budaya NTB dikenal memiliki koleksi seni rupa yang cukup kaya. Melalui “Kronik,” sebagian koleksi tersebut kembali dipertemukan dengan publik sebagai bagian dari proses pengarsipan dan perawatan karya.
Kurator Sasih Gunalan menjelaskan bahwa penampilan koleksi dalam pameran ini menjadi bentuk akuisisi, negosiasi, sekaligus inventarisasi atas karya-karya yang selama bertahun-tahun dijaga oleh Taman Budaya.
“Peristiwa perjalanan seni rupa karya Abdullah Sidik tahun 1960 turut dipamerkan kembali. Melalui ‘Kronik,’ publik bisa melihat langsung koleksi yang selama ini tersimpan,” ungkap Sasih.
Menurutnya, “Kronik” bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan jalur yang mempertemukan sejarah dan masa kini. Menjadi ruang di mana ingatan dirawat dan masa depan terus bergerak. Pameran ini juga menghadirkan karya seniman lintas generasi, termasuk perupa terpilih dan perupa muda dari perguruan tinggi di NTB.
Jika koleksi Taman Budaya menghadirkan arsip gaya dan gagasan perupa terdahulu, maka kehadiran seniman muda menyuntikkan energi baru, mulai dari eksplorasi visual hingga ekspresi atas kegelisahan dan fenomena kehidupan masa kini.
Dalam sambutannya, Lalu Abdurahim menyampaikan bahwa mulai tahun depan Dinas Kebudayaan NTB akan berdiri sebagai institusi tersendiri, terpisah dari dinas sebelumnya. Langkah ini diharapkan membuat pengelolaan kebudayaan daerah menjadi lebih efektif dan terarah.
Pameran “Kronik” pun menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian Pesta Seni NTB 2025, memperlihatkan bagaimana perjalanan seni rupa di Nusa Tenggara Barat terus bergerak, tumbuh, dan membuka ruang baru bagi generasi berikutnya.(AS)


0 Comments