Oleh: Dr. H. Ahsanul Khalik
Sejarah Lombok tidak hanya tersimpan dalam arsip dan deretan tahun, tetapi hidup dalam nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di antara nilai itu, ajaran Guru Dane menempati ruang penting sebagai penanda arah kepemimpinan orang Sasak, kepemimpinan yang bertumpu pada keteladanan, kebijaksanaan, dan kedekatan dengan masyarakat. Dalam bingkai NTB, ajaran tersebut bukan sekedar kisah masa lalu, melainkan sumber nilai yang terus relevan untuk menuntun ikhtiar bersama menuju daerah yang maju, bermartabat, dan sejahtera.
Setelah penaklukan Lombok oleh Belanda pada tahun 1894, masyarakat Sasak memasuki fase kolonial yang tidak hanya mengubah struktur kekuasaan, tetapi juga cara hidup. Penerapan pajak tanah (landrente), kerja wajib (heerendiensten), dan pengawasan administratif memaksa petani masuk ke dalam sistem ekonomi uang yang tidak seimbang. Sawah tetap digarap, tetapi hasilnya harus dibagi dengan negara kolonial. Dalam situasi ini, tekanan yang dirasakan masyarakat bukan hanya bersifat material, melainkan juga menyentuh rasa keadilan dan harga diri.
Pada saat yang sama, Belanda membangun kekuasaannya melalui elite lokal yang diberi legitimasi administratif. Namun legitimasi formal ini kerap tidak diikuti legitimasi moral. Di ruang inilah figur-figur kepemimpinan berbasis nilai menemukan tempatnya. Guru Dane hadir sebagai guru spiritual dan penyembuh, sosok yang mendengarkan, menenangkan, sekaligus memberi arah batin bagi masyarakat desa.
Dalam catatan kolonial awal abad ke-20, Guru Dane digambarkan sebagai tokoh fanatik dan berbahaya. Namun bagi masyarakat Sasak, ia adalah rujukan moral. Ia tidak memimpin perlawanan bersenjata dan tidak mengorganisir pemberontakan terbuka. Pengaruhnya justru tumbuh dari ajaran sederhana tentang keadilan, kesederhanaan, dan keberpihakan pada wong cilik. Nilai-nilai inilah yang secara perlahan mengikis kepatuhan batin terhadap kekuasaan kolonial.
Sebagian pengikut Guru Dane memandangnya sebagai penerus simbolik pemimpin Sasak pra-kolonial dari garis Selaparang. Narasi ini sering dibaca Belanda sebagai mitos yang berbahaya. Namun bagi masyarakat Sasak, ingatan semacam itu adalah cara menjaga kesinambungan martabat dan identitas. Sejarah, dalam konteks ini, tidak hanya hadir sebagai fakta tertulis, tetapi juga sebagai keyakinan kolektif yang memberi makna pada kehidupan bersama.
Kekhawatiran pemerintah kolonial terhadap pengaruh Guru Dane tercermin dalam berbagai laporan yang menyoroti aktivitas pengajian, pertemuan desa, dan praktik penyembuhan sebagai potensi gangguan ketertiban. Yang ditakuti bukan senjata, melainkan kesadaran. Kolonialisme memahami bahwa ketika masyarakat mulai memaknai hidup dan keadilan di luar kerangka kekuasaan resmi, maka fondasi kekuasaan itu sendiri menjadi rapuh.
Puncak represi terjadi sekitar tahun 1917. Sejumlah pengikut Guru Dane ditangkap, dan ia sendiri dipenjara di Mataram sebelum akhirnya diasingkan ke Bali. Langkah ini dimaksudkan untuk memutus hubungan antara pemimpin dan pengikut. Namun strategi tersebut justru menunjukkan keterbatasan kekuasaan kolonial dalam menghadapi kepemimpinan yang berbasis nilai. Pengaruh Guru Dane tidak berhenti bersama pengasingannya. Ajarannya terus hidup dalam cerita, sikap, dan pandangan hidup masyarakat Sasak.
Secara administratif, gerakan yang berpusat pada Guru Dane memang berhasil ditekan. Namun secara moral, nilai yang ia tanamkan bertahan lebih lama daripada kebijakan kolonial itu sendiri. Ia tidak meninggalkan bangunan kekuasaan, melainkan warisan etika tentang bagaimana memimpin, melayani, dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan bersama.
Dalam konteks NTB, ajaran Guru Dane dapat dibaca sebagai inspirasi kepemimpinan yang menempatkan nilai sebagai fondasi utama. Kepemimpinan dipahami bukan semata sebagai kedudukan, tetapi sebagai amanah yang dijalankan dengan kebijaksanaan, keteladanan, dan kemampuan merangkul. Semangat inilah yang menjadi ruh dalam ikhtiar bersama membangun NTB adalah ikhtiar yang menuntut partisipasi, saling melengkapi, dan kesediaan berjalan searah dalam satu tujuan.
Setiap daerah memiliki kisah dan nilai yangi membentuk karakternya. Bagi NTB, ajaran Guru Dane adalah salah satu penanda penting bahwa kemajuan yang berkelanjutan selalu berangkat dari akar budaya dan kearifan lokal. Nilai-nilai tersebut tidak membelenggu langkah ke depan, justru memberi arah agar perubahan tetap berpijak pada jati diri.
Pada akhirnya, kisah Guru Dane mengingatkan kita bahwa sejarah bukan hanya tentang apa yang telah berlalu, melainkan tentang nilai apa yang kita pilih untuk terus hidupkan. Dalam bingkai NTB, ajaran itu menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang berakar pada nilai, keteladanan, dan kebersamaan akan selalu menemukan jalannya, menuntun langkah kolektif menuju daerah yang sejahtera, bermartabat, dan berdaya saing, tanpa kehilangan ruh ke-Sasak-an yang menjadi fondasinya.

0 Comments