![]() |
| Penampilan salah satu Murid Forges di Pentas Selasa Warjek 20/01.(Foto:As) |
SAVANANEWS, Mataram—Selasa sore di Ruang Di Pojok Timur, Taman Budaya NTB, 20 Januari 2026, tak sekadar menghadirkan bunyi gesek biola dan denting nada yang kadang gugup, kadang berani. Di ruang sederhana itu, Selasa Warjek menjelma menjadi tempat bertumbuh, tempat anak-anak, remaja, hingga mahasiswa belajar berdiri di hadapan publik, melawan rasa takut mereka sendiri.
Di antara para penampil, ada musisi berusia 10 tahun yang untuk pertama kalinya merasakan lampu panggung, berdiri sejajar dengan kakak-kakak mahasiswa dan seniman yang lebih dulu matang. Tak ada jarak, tak ada tiket, tak ada syarat rumit. Semua datang dengan satu tujuan: belajar dan berani.
Pendiri FORGES (Forum Gesek), Beny Permana, menyebut Selasa Warjek sebagai ruang penting bagi proses tersebut. Bagi anak-anak FORGES, pentas ini bukan soal tampil sempurna, melainkan soal keberanian memulai.
![]() |
| Suasana penonton pentas Selasa Warjek 20/01.(Foto:As) |
“Warjek sangat membantu seniman, musisi, dan calon musisi. Khususnya anak-anak FORGES, ini menjadi wadah gratis untuk menguji skill sekaligus melatih mental panggung,” ujar Beny, yang juga dosen Musik di Prodi Sendratasik Universitas Nahdlatul Ulama NTB.
Menurut Beny, panggung kecil seperti Selasa Warjek justru menyimpan peran besar. Di sinilah musisi muda belajar menerima salah, membaca situasi, dan memahami bahwa proses berkesenian tak selalu berjalan mulus.
Ia berharap ruang semacam ini tidak berhenti sebagai peristiwa sesaat, melainkan tumbuh menjadi tradisi yang berkelanjutan.
“Kalau bisa, kegiatan seperti semalam ini berjalan reguler, minimal tiga bulan sekali. Dengan begitu, skill anggota FORGES bisa berkembang lebih cepat. Untuk Warjek sendiri, semoga ada dukungan material dan immaterial agar ruang ini bisa lebih tertata dan terus hidup bagi seniman NTB, khususnya di Mataram,” katanya.
FORGES sendiri membuka pintu lebar bagi siapa pun yang ingin belajar musik gesek. Usia bukan penghalang, selama ada kemauan dan dasar kemampuan.
“Saat ini yang paling muda sekitar 10 tahun. Syaratnya sederhana: sudah bisa memainkan alat musik gesek seperti violin, viola, cello, atau contrabass, dan sedikit bisa membaca notasi balok,” jelas Beny.
Setiap hari Minggu pukul 10.00 WITA, sebuah rumah di Jl. Abdul Kadir Munsyi, Gang Dahlia I No.12, Punie Saba, Mataram, menjadi ruang belajar, ruang bermain, sekaligus ruang mimpi bagi mereka yang ingin menekuni musik gesek.
Di tengah keterbatasan ruang tampil, Selasa Warjek membuktikan bahwa panggung tak selalu harus megah. Kadang, dari sudut paling timur Taman Budaya, mimpi-mimpi kecil para musisi muda justru menemukan keberanian pertamanya.(AS)


0 Comments