Breaking News

Gema Bentala Nusantara dan Suara Kreatif Mahasiswa UNU NTB

Mahasiswi Sendratasik UNU NTB sebelum pementasan hasil hasil Kelas.(Foto.Panitia)

SAVANANEWS, Mataram—Seni menemukan rumahnya di ruang akademik ketika Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB) menghadirkan Presentasi Hasil Kelas bertajuk Gema Bentala Nusantara, 5–6 Januari 2025, di Gedung Tertutup Taman Budaya NTB. Selama dua hari, mahasiswa menghidupkan panggung sebagai ruang uji gagasan, ekspresi, dan tanggung jawab artistik, yang juga dapat disaksikan publik secara gratis maupun melalui siaran langsung YouTube UNU NTB.

Lebih dari sekadar tajuk acara, Gema Bentala Nusantara dimaknai sebagai suara kebangkitan kultural masyarakat Nusa Tenggara. Tema ini merepresentasikan kesadaran generasi muda untuk tidak lagi berada dalam posisi diam, melainkan tampil menyuarakan identitas, daya cipta, serta kepedulian terhadap alam dan budaya sebagai warisan hidup. Nilai-nilai tersebut menjadi benang merah yang merajut setiap karya mahasiswa di atas panggung.

Para Penari dan Aktor Pemetasan Teater Leang Mahasiswa Sendratasik UNU NTB.(Foto.Panitia)

Panggung Gema Bentala Nusantara menjadi titik temu antara teori akademik dan praktik artistik. Ragam karya tari kreasi dan teater dipresentasikan secara berlapis. Hari pertama diisi Tari Kreasi I, Tari Kreasi II, serta pertunjukan teater malam hari. Sementara hari kedua kembali menghadirkan sajian tari kreasi pada siang hari dan teater pada malam hari, membangun ritme pertunjukan yang dinamis dan berkesinambungan.

Sebanyak tiga angkatan mahasiswa dari semester 3, 5, dan 7 terlibat aktif. Kolaborasi lintas semester ini mencerminkan proses pembelajaran seni yang berjenjang—mulai dari eksplorasi dasar, pendalaman teknik, hingga pematangan konsep dan keberanian tampil di ruang publik.

Karya-karya yang dipentaskan lahir dari proses perkuliahan lintas mata kuliah. Mahasiswa Program Studi Sendratasik menampilkan hasil pembelajaran Pengkaryaan Seni Pertunjukan NTB, Koreografi, dan Penyutradaraan. Sementara mahasiswa PGSD turut ambil bagian melalui mata kuliah Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik. Kesatuan artistik pertunjukan diperkuat oleh tata artistik hasil kolaborasi dosen dan mahasiswa, sehingga aspek visual, teknis, dan dramaturgi tampil selaras.

Pimpinan Produksi, Aditya Ahmad Zamzani, mahasiswa semester tiga Sendratasik, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang pertunjukan, tetapi juga laboratorium pembelajaran manajemen seni.

“Gema Bentala Nusantara kami rancang sebagai ruang belajar kolektif. Mahasiswa tidak hanya tampil, tetapi juga belajar mengelola proses, bekerja dalam tim, dan mempertanggungjawabkan karya kepada publik. Inilah suara generasi muda Nusa Tenggara yang berbicara tentang identitas, alam, dan budaya kami,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Wahyu Kurnia, M.Sn, Kaprodi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik Fakultas Pendidikan UNU NTB. Menurutnya, Presentasi Hasil Kelas merupakan elemen penting dalam sistem pembelajaran seni di perguruan tinggi.

“Dalam ruang akademik, perlu ada wadah untuk mengukur capaian pembelajaran selama satu semester. Terlebih seni adalah ilmu terapan. Tanpa dipresentasikan, kita tidak akan mengetahui sejauh mana proses dan capaian kesenian yang dijalani mahasiswa,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa seni harus melampaui ruang teori dan diuji melalui praktik serta dialog dengan penonton.

“Melalui presentasi ini, mahasiswa belajar bertanggung jawab terhadap proses kreatif, karya yang dihadirkan, dan publik yang menyaksikan,” tambahnya.

Melalui Gema Bentala Nusantara, UNU NTB menegaskan peran kampus bukan hanya sebagai ruang belajar, tetapi juga sebagai panggung alternatif pertunjukan. Di sinilah seni berfungsi sebagai medium refleksi identitas, kepedulian ekologis, dan tanggung jawab budaya—sebuah gema yang diharapkan terus bergaung dari Nusa Tenggara untuk masa depan.(AS)


0 Comments

© Copyright 2022 - Savana News