TfW0GfCpGSd9TSOoGpCpBUG5

Dari Mitos ke Tafsir Baru, Film Pendek Bau Nyale Tawarkan Perspektif Sejarah dan Budaya NTB

SAVANANEWS — Pemutaran film pendek bertema Bau Nyale digelar di kawasan Kuta Mandalika, Jumat (6/2) malam, sebagai bagian dari rangkaian Festival Bau Nyale 2026. Film tersebut menghadirkan pembacaan baru atas Legenda Putri Mandalika yang selama ini dikenal luas di masyarakat.


Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, yang hadir dalam pemutaran tersebut, menilai film pendek itu memberikan sudut pandang berbeda terhadap kisah Putri Mandalika yang selama ini lebih banyak dipahami melalui narasi mitos.


Sinta mengaku selama ini hanya mengenal cerita Mandalika secara singkat, terutama versi yang menyebutkan Sang Putri melompat ke laut dan menjelma menjadi nyale. Melalui film ini, ia melihat adanya upaya memperluas pemaknaan legenda dengan menekankan nilai-nilai pembelajaran di balik kisah tersebut.


Film tersebut juga dinilai membuka ruang diskusi mengenai sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang melekat dalam tradisi Bau Nyale, tidak semata sebagai peristiwa ritual tahunan, tetapi sebagai bagian dari narasi kebudayaan yang lebih dalam.


Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, Ahmad Nur Aulia, mengatakan keterlibatan sineas muda dan budayawan dalam produksi film ini menjadi langkah penting dalam mendokumentasikan dan mentransformasikan cerita lokal ke dalam medium visual yang lebih mudah diakses generasi muda.


Menurutnya, film pendek tersebut dapat dimanfaatkan sebagai materi storytelling untuk memperkaya narasi pariwisata, khususnya di kawasan Mandalika, dengan menonjolkan sisi historis dan nilai-nilai kebajikan yang terkandung dalam legenda Bau Nyale.


Salah satu narasumber film, Lalu Agus Faturrahman, menjelaskan bahwa dalam penelusuran sejarah yang ia pahami, Legenda Bau Nyale menggambarkan Putri Mandalika sebagai sosok perempuan yang cantik, bijaksana, dan memiliki kecerdasan berpikir yang tinggi. Ia menyebutkan bahwa Putri Mandalika tidak menceburkan diri ke laut, melainkan menghilang setelah menyampaikan pesan-pesan kebijaksanaan kepada para pangeran yang meminangnya.


Ia juga mengungkapkan bahwa narasi Mandalika menjelma menjadi nyale diduga merupakan konstruksi sastra modern yang berkembang sekitar awal 1980-an, ketika kisah Mandalika mulai diangkat sebagai bagian dari agenda pariwisata daerah. Interpretasi tersebut, menurutnya, diperkuat untuk kebutuhan dramatik dalam pertunjukan seni, khususnya teater kolosal.


Secara keseluruhan, film pendek Bau Nyale menekankan pesan moral tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, dan pilihan jalan damai dalam menyelesaikan konflik. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat terus dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya melalui pendekatan budaya dan seni visual. (Red)

0Comments

Tambahkan komentar
adsvert
adsvert
adsvert
adsvert

Info

  • Mataram, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.
  • +0123456789
  • info@domainku.com

About Me

myPhoto
Admin
Situs berita terpercaya yang mengunggulkan nilai kesantunan lugas dan keberimbangan dalam merangkum ragam peristiwa pendidikan, sosial, budaya, olahraga, politik, hukrim dan lainnya.
View my complete profile