
Harga Emas Bangkit di Awal Perdagangan Selasa, Perak Ikut Menguat
SAVANANEWS — Harga emas dunia kembali menguat pada awal perdagangan Selasa (3/2/2026), menandai fase pemulihan setelah mengalami tekanan jual ekstrem dalam dua hari sebelumnya. Penguatan ini memangkas sebagian kerugian besar yang sempat membuat harga emas tertekan hingga sekitar 13 persen, menjadi salah satu koreksi terdalam dalam lebih dari satu dekade.
Berdasarkan data perdagangan global, pada pukul 08.16 WIB harga emas di pasar spot tercatat menguat 3,77 persen atau naik sekitar 175 poin ke level US$4.836,91 per troy ounce. Sementara itu, kontrak emas berjangka Comex Amerika Serikat turut menguat 3,65 persen ke posisi US$4.822,6 per troy ounce. Sejalan dengan emas, harga perak juga mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 7,23 persen ke level US$82,58.
Penguatan ini terjadi setelah emas anjlok hampir 5 persen pada sesi perdagangan sebelumnya. Tekanan jual yang berlangsung cepat dan masif tersebut dipicu oleh aksi ambil untung besar-besaran di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.
Analis komoditas dari UBS Global Wealth Management, Joni Teves, menilai rebound harga emas mencerminkan kuatnya minat beli setelah koreksi tajam.
“Koreksi yang terjadi dalam dua hari terakhir mendorong investor kembali masuk ke pasar emas. Secara fundamental, emas masih dipandang sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global,” ujarnya dalam riset pasar terbaru.
Senada dengan itu, analis logam mulia dari ANZ Research, Daniel Hynes, mengatakan bahwa pergerakan harga emas saat ini menunjukkan pasar mulai mencari titik keseimbangan baru.
“Penurunan tajam sebelumnya bersifat teknikal dan dipicu sentimen jangka pendek. Pemulihan hari ini menunjukkan adanya stabilisasi, meskipun volatilitas masih akan tinggi dalam waktu dekat,” jelasnya.
Sementara untuk perak, penguatan yang lebih agresif mencerminkan meningkatnya minat spekulatif sekaligus harapan pemulihan permintaan industri. Perak kerap bergerak lebih volatil dibanding emas, terutama ketika pasar memasuki fase pemulihan setelah tekanan jual.
Menurut analis pasar dari World Gold Council, volatilitas harga logam mulia saat ini tidak terlepas dari dinamika kebijakan moneter global dan pergerakan dolar AS.
“Emas masih berada dalam fase penyesuaian setelah reli panjang. Investor tetap menjadikan emas sebagai instrumen diversifikasi, terutama ketika risiko pasar meningkat,” tulis lembaga tersebut dalam laporan terpisah.
Meski menunjukkan sinyal pemulihan, para analis mengingatkan bahwa pergerakan harga emas dan perak ke depan masih sangat dipengaruhi oleh sentimen global, termasuk arah suku bunga, inflasi, serta kondisi geopolitik. Investor pun diimbau tetap mencermati perkembangan pasar dengan pendekatan yang lebih selektif. (Red)
