SAVANANEWS - Eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama ketegangan Israel-Iran, berpotensi memicu kenaikan harga emas dan minyak mentah dunia sekaligus menekan nilai tukar rupiah. Dampaknya bagi Indonesia dinilai lebih besar melalui kanal energi dan keuangan dibandingkan perdagangan langsung.
Gambar hanya ilustrasi
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, Sabtu (28/2/2026), mengatakan, ketidakpastian geopolitik menjadi katalis utama penguatan harga emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Pada Sabtu pagi, harga emas dunia ditutup di level 5.280 dolar AS per troy ounce, sementara harga emas batangan di dalam negeri mencapai Rp 3.085.000 per gram.
Menurut dia, peluang penguatan emas dalam sepekan ke depan lebih besar. Level resisten pertama emas dunia diperkirakan di 5.365 dolar AS per troy ounce dengan harga logam mulia berpotensi menembus Rp 3.150.000 per gram. Bahkan, emas global bisa mencapai 5.500 dolar AS per troy ounce dan logam mulia Rp 3.400.000 per gram jika eskalasi konflik berlanjut.
Ibrahim menilai, kegagalan pertemuan delegasi Amerika Serikat dan Iran di Geneva, Swiss, serta meningkatnya ketegangan pascaserangan Israel ke Teheran memperbesar risiko konflik terbuka. Situasi ini mendorong investor global menghindari aset berisiko dan memburu instrumen aman, termasuk emas dan dolar AS.
Selain emas, konflik berpotensi mengerek harga minyak mentah dunia. Gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, yang menjadi pusat produksi energi global, dapat memicu lonjakan harga energi.
”Ini bisa menjadi babak baru konflik di Timur Tengah pada Maret 2026. Dampaknya, kemungkinan besar harga emas naik, logam mulia naik, rupiah melemah. Kemudian kalau harga minyak mentah naik, nah ini akan berdampak terhadap turunannya,” ujar Ibrahim.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi terdepresiasi menuju Rp 17.000 per dolar AS apabila ketegangan terus meningkat. Dalam situasi risk-off, arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman.
Sejalan dengan itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menilai, dampak konflik Israel–Iran terhadap Indonesia bukan berasal dari jalur perdagangan langsung.
”Secara angka perdagangan, perdagangan langsung Indonesia–Iran hanya sekitar 200 juta dolar AS per tahun, sangat kecil untuk ukuran ekonomi Indonesia. Jadi, konflik tidak akan menjatuhkan ekspor Indonesia. Yang berbahaya bukan trade channel, tetapi oil channel,” ujar Rizal.
Menurut dia, Indonesia tidak bergantung kepada Iran sebagai pasar ekspor. Namun, posisi Iran sebagai produsen OPEC dan letaknya di jalur strategis Selat Hormuz membuat setiap ketegangan langsung meningkatkan premi risiko (risk premium) harga minyak dunia.
Rizal menegaskan, eskalasi geopolitik Israel–Iran bagi Indonesia pada dasarnya bukan trade shock, melainkan energy and financial shock. Indonesia sebagai net importer migas akan langsung terdampak kenaikan harga minyak melalui peningkatan biaya impor energi.
Kenaikan harga minyak, lanjutnya, akan memperbesar kebutuhan kompensasi dan subsidi energi sekaligus mempersempit ruang fiskal pemerintah. ”Artinya, tekanan pertama bukan pada ketersediaan energi, melainkan pada APBN,” kata Rizal. (Red)
