Jakarta — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel, Iran, dan Amerika Serikat terlibat dalam rangkaian serangan dan aksi balasan yang memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi konflik regional yang lebih luas.
Gambar hanya ilustrasi
Berdasarkan laporan Reuters, Associated Press (AP), BBC, dan Al Jazeera, eskalasi konflik dipicu oleh meningkatnya konfrontasi antara Israel dan kelompok yang didukung Iran di berbagai wilayah, termasuk Suriah, Lebanon, Irak, dan Laut Merah.
Media internasional melaporkan bahwa Israel melancarkan sejumlah serangan udara yang menargetkan fasilitas militer dan posisi yang disebut terkait Garda Revolusi Iran di Suriah. Pemerintah Israel menyatakan operasi tersebut bertujuan mencegah penguatan militer Iran di dekat perbatasannya.
Sebagai respons, Iran dan kelompok sekutunya meningkatkan serangan menggunakan drone dan rudal ke target yang berkaitan dengan Israel. Beberapa serangan berhasil dicegat sistem pertahanan udara Israel dengan dukungan sekutu internasional.
Menurut laporan BBC, situasi memanas setelah Iran sebelumnya meluncurkan serangan langsung menggunakan ratusan drone dan rudal, yang disebut sebagai respons atas serangan terhadap fasilitas diplomatiknya di Damaskus. Israel kemudian melakukan serangan balasan terbatas yang menargetkan instalasi militer di wilayah Iran.
Sementara itu, Amerika Serikat turut terlibat dalam eskalasi dengan melancarkan serangan terhadap kelompok milisi pro-Iran di Irak dan Suriah setelah pangkalan militer AS beberapa kali menjadi sasaran serangan roket dan drone.
Pejabat Pentagon, seperti dikutip Associated Press, menyatakan operasi militer AS dilakukan untuk melindungi personel dan kepentingan Amerika di kawasan, sekaligus mencegah konflik meluas menjadi perang terbuka.
Di sisi lain, Washington terus menyerukan de-eskalasi. Presiden Amerika Serikat menegaskan negaranya tidak menginginkan perang langsung dengan Iran, namun tetap berkomitmen mempertahankan keamanan Israel.
Pengamat internasional menilai situasi saat ini merupakan salah satu periode paling tegang di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Reuters melaporkan meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan, termasuk penempatan kapal perang dan sistem pertahanan udara tambahan sebagai langkah pencegahan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut menyampaikan kekhawatiran atas risiko konflik regional yang dapat berdampak pada stabilitas global, jalur perdagangan energi, serta keamanan sipil di sejumlah negara Timur Tengah.
Hingga kini, belum ada tanda konflik berkembang menjadi perang skala penuh, namun komunitas internasional terus mendesak semua pihak menahan diri guna mencegah eskalasi lebih lanjut. (*)
