Lombok Barat — Tradisi Lebaran Topat kembali digelar di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (28/3). Perayaan yang dipusatkan di kawasan Makam Batulayar dan Amphitheater Senggigi ini diikuti ribuan masyarakat serta wisatawan.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal hadir di Tradisi Lebaran Topat kembali digelar di Kabupaten Lombok Barat
Sejak pagi, warga memadati lokasi dengan membawa dulang berisi ketupat dan berbagai hidangan khas. Selain ziarah makam dan doa bersama, rangkaian kegiatan juga diisi dengan atraksi budaya seperti parade, arak-arakan ketupat, hingga pertunjukan seni tradisional.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal yang hadir bersama Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini dan Wakil Bupati Nurul Adha menilai Lebaran Topat memiliki makna lebih dari sekadar tradisi tahunan.
“Ini bukan hanya tradisi, tetapi refleksi spiritual yang menguatkan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama,” ujar Iqbal.
Ia menjelaskan, filosofi ketupat dalam tradisi ini mencerminkan empat makna utama, yakni Lebaran, Luberan, Leburan, dan Labur, yang diartikan sebagai kesempurnaan ibadah, keikhlasan berbagi, saling memaafkan, serta kembali pada kesucian diri.
Sementara itu, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini menyebut Lebaran Topat sebagai warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Sasak. Tradisi yang digelar setiap 8 Syawal ini tidak hanya diisi kegiatan religius, tetapi juga menjadi momen kebersamaan keluarga, terutama di kawasan pesisir.
“Ttradisi ini merupakan warisan leluhur yang terus hidup di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari identitas budaya Sasak,” kata Zaini.
Pada pelaksanaan tahun ini, perayaan Lebaran Topat juga melibatkan pelaku pariwisata di kawasan Senggigi. Sejumlah hotel dan pelaku usaha turut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Dengan kombinasi nilai budaya, spiritual, dan partisipasi sektor pariwisata, Lebaran Topat dinilai memiliki potensi sebagai daya tarik wisata tahunan di Nusa Tenggara Barat. (Red)
