TfW0GfCpGSd9TSOoGpCpBUG5

SDN 1 Keru Pimpin Gerakan Literasi Bencana di HKBN 2026, Dorong Budaya Siaga Sejak Dini

Kegiatan SDN 1 Keru, Narmada (istimewa)
Lombok Barat – SDN 1 Keru, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), tampil sebagai pelopor penguatan literasi kebencanaan di lingkungan sekolah dalam peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) 2026, Minggu (26/4/2026). Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya siaga bencana sejak dini, di tengah meningkatnya ancaman hidrometeorologi dan geologi di Indonesia.

Partisipasi SDN 1 Keru tahun ini tidak sekadar bersifat seremonial. Sekolah tersebut mengusung pendekatan edukatif dan praktis sebagai bagian dari pergeseran paradigma penanggulangan bencana nasional—dari responsif menjadi preventif. Langkah ini juga sejalan dengan penguatan sumber daya manusia tangguh dalam agenda pembangunan nasional.

Kepala SDN 1 Keru, Hadi Hasan Zulfikri, mengatakan bahwa pendidikan mitigasi bencana harus menjadi bagian integral dari proses belajar di sekolah. Menurutnya, pengalaman berbagai bencana di Indonesia menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan sejak dini.

“Kami tidak ingin hanya menunggu bencana datang. Melalui HKBN 2026, kami melakukan internalisasi manajemen risiko kepada seluruh warga sekolah. Tujuannya agar mereka memahami siklus penanggulangan bencana secara utuh, mulai dari pra-bencana hingga pemulihan,” ujar Hadi.

Sebanyak 342 warga sekolah terlibat dalam rangkaian kegiatan yang meliputi sosialisasi kebencanaan, pelatihan pertolongan pertama, hingga simulasi evakuasi mandiri menghadapi gempa bumi. Kegiatan ini dirancang untuk membekali siswa dan tenaga pendidik dengan keterampilan dasar yang dibutuhkan saat kondisi darurat, terutama pada masa kritis atau golden period.

Menariknya, simulasi evakuasi di SDN 1 Keru memadukan teknologi modern dan kearifan lokal. Selain menggunakan sirine sebagai sistem peringatan dini, sekolah juga memanfaatkan kentongan yang dipukul secara serentak. Pendekatan ini dinilai efektif untuk menguji kesiapan sistem peringatan di tingkat komunitas.

Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lombok Barat sebagai mitra teknis. Kolaborasi ini mencerminkan model pentahelix yang menggabungkan peran lembaga pendidikan, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat.

Kepala Markas PMI Kabupaten Lombok Barat, Lalu Taufik Rahman, menyatakan dukungannya terhadap inisiatif tersebut. “Sinergi ini bertujuan memperkuat kapasitas sekolah. Kami memastikan setiap individu memiliki keterampilan dasar untuk menyelamatkan diri dan memberikan pertolongan pertama secara tepat,” katanya.

Di tingkat regional, HKBN 2026 dilaksanakan serentak di delapan kabupaten/kota di NTB. Namun, tingkat partisipasi di Lombok Barat tercatat masih terbatas. Selain BPBD Lombok Barat yang mengerahkan 72 personel, keterlibatan SDN 1 Keru secara mandiri menjadi sorotan sebagai contoh praktik baik di tingkat akar rumput.

Pendekatan whole-school approach yang diterapkan dinilai mampu memperkuat kesiapsiagaan kolektif serta mengurangi beban respons pemerintah saat terjadi bencana. Dengan menjadikan simulasi evakuasi sebagai kegiatan rutin, SDN 1 Keru diharapkan dapat menjadi model bagi sekolah lain dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman dan tangguh terhadap risiko bencana.

Upaya ini menegaskan bahwa ketahanan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat dalam menghadapi ancaman alam yang kian kompleks di masa depan. (Red)

0Comments

Tambahkan komentar
adsvert
adsvert
adsvert
adsvert

Info

  • Mataram, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.
  • +0123456789
  • info@domainku.com

About Me

myPhoto
Admin
Situs berita terpercaya yang mengunggulkan nilai kesantunan lugas dan keberimbangan dalam merangkum ragam peristiwa pendidikan, sosial, budaya, olahraga, politik, hukrim dan lainnya.
View my complete profile