TfW0GfCpGSd9TSOoGpCpBUG5

Review Buku: Kritik Wacana Teologi Islam

Foto : Mujahidin Abubakar, Mahasiswa Program Doktoral (S3) Studi Islam, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

Oleh: Mujahidin Abubakar

Mahasiswa Program Doktoral (S3) Studi Islam, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD)


Identitas Buku

Judul: Kritik Wacana Teologi Islam

Penulis: Muhammad Abed Al-Jabiri

Penerjemah: Dr. Aksin Wijaya

Penerbit: IRCiSoD

Cetakan: Pertama

Tebal: 216 halaman

Terbit: Yogyakarta, Desember 2019


Studi Islam kontemporer, terutama yang berakar dari dinamika intelektual di kawasan Timur Tengah, sering kali dihadapkan pada pertanyaan mengenai penyebab kemunduran warisan atau tradisi intelektual Arab Islam. Melalui proyek intelektualnya, Naqd al-'Aql al-'Arabi atau Kritik Nalar Arab, Mohammed Abed al-Jabiri berupaya menjawab pertanyaan tersebut dengan mengkritik struktur rasional yang membentuk pemikiran Arab Islam.


Buku Kritik Wacana Teologi Islam merupakan kajian kritis Muhammad Abed al-Jabiri terhadap sejarah perkembangan ilmu kalam dalam Islam dengan menjadikan karya Ibnu Rusyd, Al-Kasyf'an Manahij al-Adillah fi ‘Aqaid al-Millah, sebagai titik pijak analisis. Buku ini tidak sekadar membahas pemikiran Ibnu Rusyd, tetapi juga menelusuri perjalanan panjang teologi Islam sejak munculnya berbagai aliran kalam seperti Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan berbagai mazhab teologi lainnya.


Menurut Al-Jabiri, perkembangan ilmu kalam tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, politik, dan ideologis yang melatarbelakanginya. Buku yang diterjemahkan oleh Dr. Aksin Wijaya ini merupakan bagian penting dari proyek intelektual Al-Jabiri untuk menganalisis struktur pemikiran Islam yang berkembang selama berabad-abad.


Secara umum, buku ini bertujuan menjelaskan sejarah perkembangan teologi, menganalisis struktur pemikiran teologi Islam klasik, mempelajari keterbatasan epistemologis berbagai aliran pemikiran dalam teologi, serta menyajikan pentingnya pendekatan demonstratif rasional sebagaimana ditemukan dalam pemikiran Ibnu Rusyd.


Dalam konteks sejarah ilmu kalam, Al-Jabiri menjelaskan bahwa ilmu kalam lahir bukan semata-mata karena kebutuhan keagamaan, melainkan juga karena konflik politik dan sosial di kalangan umat Islam. Ia menunjukkan bagaimana persoalan kepemimpinan pasca-Nabi, konflik politik, dan pertarungan kekuasaan turut melahirkan berbagai aliran teologi.


Sementara dalam konteks perbaikan aqidah, Al-Jabiri menjelaskan proyek Ibnu Rusyd dalam memperbaiki cara memahami aqidah Islam. Ibnu Rusyd berpendapat bahwa agama tidak bertentangan dengan akal, syariat dan filsafat dapat berjalan bersama, serta metode demonstratif (burhani) harus digunakan untuk memahami realitas.


Selain itu, dalam konteks metode pemikiran, Al-Jabiri menggunakan pendekatan historis, yaitu memahami setiap pemikiran berdasarkan konteks sejarahnya. Ia juga menggunakan pendekatan epistemologis dengan tidak hanya mempertanyakan isi sebuah pemikiran, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut dibangun. Pendekatan kritis yang digunakan menempatkan tradisi sebagai sesuatu yang dihormati, namun tidak disakralkan.


Salah satu bagian terpenting dalam buku ini adalah analisis Al-Jabiri mengenai hubungan antara perkembangan teologi Islam dan konteks sosial-politik umat Islam. Menurutnya, muncul dan berkembangnya berbagai aliran pemikiran tidak dapat dipahami semata-mata sebagai perdebatan keagamaan, melainkan juga berkaitan erat dengan konflik politik dan situasi sejarah yang melingkupinya.


Al-Jabiri menunjukkan bahwa kekuasaan memainkan peran penting dalam menentukan posisi pemikiran teologis di tengah masyarakat. Melalui pendekatan historis-kritis, ia mendorong pembaca untuk menyadari bahwa konstruksi pemikiran teologis merupakan hasil interaksi antara teks-teks keagamaan, akal manusia, dan realitas sosial-politik pada zamannya.


Lebih jauh, Al-Jabiri memandang krisis yang dihadapi umat Islam bukan hanya persoalan teknis atau politik, tetapi juga persoalan epistemologis yang berkaitan dengan struktur nalar yang membentuk cara berpikir umat Islam. Dalam pandangannya, teologi Islam (kalam) bukan sekadar doktrin agama yang bersifat tetap, tetapi juga sebuah wacana intelektual yang berkembang dalam konteks sejarah tertentu.


Penggunaan konsep wacana menunjukkan pengaruh pemikiran kritis modern dalam analisis Al-Jabiri. Ia menegaskan bahwa pemikiran keagamaan selalu terkait dengan kondisi sosial, politik, dan sejarah yang melahirkannya.


Dalam kerangka epistemologi yang dikembangkannya, Al-Jabiri membagi struktur nalar ke dalam tiga kategori, yakni Bayani, Irfani, dan Burhani. Nalar Bayani menjadikan teks dan bahasa sebagai sumber utama pengetahuan. Namun, menurut Al-Jabiri, dominasi nalar ini dapat membuat pemikiran Islam terlalu terikat pada otoritas masa lalu.


Adapun nalar Irfani bertumpu pada intuisi dan pengalaman batin. Al-Jabiri mengkritiknya karena dianggap sulit diverifikasi secara rasional. Sebaliknya, nalar Burhani dipandang sebagai model epistemologi yang paling memungkinkan bagi pengembangan rasionalitas karena berbasis pada logika dan demonstrasi. Dalam konteks ini, pemikiran Ibnu Rusyd dianggap sebagai representasi penting dari nalar Burhani dalam tradisi Islam.


Melalui buku ini, Al-Jabiri mengajak pembaca untuk tidak hanya menjadi penerima tradisi secara pasif, tetapi juga memiliki keberanian intelektual untuk meninjau kembali struktur pemikiran yang membentuk tradisi Islam. Kritik yang diajukannya menunjukkan bahwa memahami agama tidak cukup hanya dengan mengulangi warisan pemikiran masa lalu, tetapi juga memerlukan analisis terhadap konteks historis, sosial, dan epistemologis yang melahirkannya.


Buku ini memberikan kontribusi penting bagi studi Islam kontemporer dengan mengingatkan bahwa produk pemikiran keagamaan merupakan hasil interaksi antara teks, akal, dan realitas sejarah. Karena itu, upaya memahami agama perlu dilakukan melalui dialog yang memadukan penghormatan terhadap tradisi dan keterbukaan terhadap kritik intelektual.


Sebagai sebuah karya, Kritik Wacana Teologi Islam memiliki sejumlah kelebihan. Buku ini kaya data sejarah sehingga memudahkan pembaca memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai perkembangan ilmu kalam. Analisis yang disajikan juga sangat mendalam karena tidak hanya menjelaskan tokoh dan mazhab, tetapi juga mengurai struktur berpikir yang melandasinya.


Selain itu, buku ini relevan dengan tantangan dunia modern karena membahas hubungan antara agama, rasionalitas, ilmu pengetahuan, serta kebebasan berpikir. Hal tersebut menjadikannya penting dalam kajian Islam kontemporer.


Namun demikian, buku ini menggunakan bahasa yang cukup berat sehingga tidak mudah dipahami oleh pembaca awam. Pembaca setidaknya memerlukan pengetahuan dasar mengenai sejarah pemikiran Islam dan filsafat agar dapat mengikuti alur argumentasi yang dibangun penulis.


Berdasarkan bacaan penulis, meskipun pendekatan Al-Jabiri menawarkan perspektif baru dalam memahami warisan atau tradisi Islam, pendekatan tersebut juga menuai kritik. Sebagian kalangan menilai Al-Jabiri terlalu menekankan aspek rasional dan belum memberikan ruang yang cukup bagi dimensi spiritual dalam tradisi Islam.


Meski demikian, secara keseluruhan buku ini merupakan salah satu karya penting dalam studi pemikiran Islam kontemporer. Al-Jabiri menawarkan perspektif baru dalam membaca warisan intelektual Arab sekaligus mengajak pembaca untuk melihat hubungan antara agama, akal, dan sejarah secara lebih kritis. Terlepas dari kompleksitasnya, buku ini tetap layak menjadi referensi bagi peneliti, akademisi, maupun pembaca yang ingin memahami dinamika pemikiran Islam secara lebih mendalam. (*)

0Comments

Tambahkan komentar
adsvert
adsvert
adsvert
adsvert

Info

  • Mataram, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.
  • +0123456789
  • info@domainku.com

About Me

myPhoto
Admin
Situs berita terpercaya yang mengunggulkan nilai kesantunan lugas dan keberimbangan dalam merangkum ragam peristiwa pendidikan, sosial, budaya, olahraga, politik, hukrim dan lainnya.
View my complete profile