![]() |
| Gubernur dan Wakil Gubernur NTB menghadiri Peringatan HUT Ke-81 RI di Lapangan Bumi Gora Mataram (foto Istimewa) |
MATARAM - Upacara Detik-Detik Proklamasi dalam rangka
memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan
Bumi Gora, Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (17/8), berlangsung
khidmat. Namun di balik merah putih yang berkibar dan rangkaian upacara yang
sakral, terselip pesan kemanusiaan yang kuat untuk saudara-saudara di Nusa
Tenggara Timur (NTT) yang sedang menghadapi bencana gempa bumi berkekuatan M 7,7.
Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Gubernur NTB H. Lalu
Muhamad Iqbal tampil mengenakan pakaian adat Manggarai, NTT, didampingi Ketua
TP PKK NTB Hj. Sinta Agathia M. Iqbal. Pilihan busana tersebut bukan sekadar
simbol budaya, tetapi pesan solidaritas bahwa di tengah suasana peringatan
kemerdekaan, NTB tidak melupakan saudara sebangsa yang sedang menghadapi duka.
“Pakaian adat Manggarai ini kami kenakan sebagai bentuk
solidaritas kepada masyarakat Manggarai yang sedang menghadapi bencana. Ini
menunjukkan bahwa masyarakat Manggarai tidak sendiri. Kita bersama-sama dengan
mereka dalam situasi sulit ini,” ujar Gubernur Miq Iqbal usai upacara.
Pesan itu semakin kuat ketika seluruh peserta upacara dari
unsur TNI-Polri, ASN, pelajar, masyarakat, dan para tamu undangan, mengikuti
setiap rangkaian upacara dengan penuh khidmat. Detik-detik Proklamasi menjadi
momentum untuk kembali merasakan makna kemerdekaan sebagai sebuah persatuan,
kebersamaan, dan rasa senasib sebagai satu bangsa.
Suasana semakin sakral ketika Pasukan Pengibar Bendera
Pusaka (Paskibraka) Provinsi NTB menjalankan tugasnya dengan sukses. Para
putra-putri terbaik yang merupakan perwakilan pelajar SMA/SMK sederajat dari
kabupaten/kota se-NTB melaksanakan tugas pengibaran Sang Merah Putih dengan
penuh disiplin dan kehormatan, dikawal pasukan TNI yang tergabung dalam satu
kesatuan.
Keberhasilan itu menjadi salah satu puncak upacara,
sekaligus menggambarkan wajah generasi muda NTB yang berdiri tegak membawa
amanah bangsa. Di lapangan itu, merah putih bukan hanya dikibarkan sebagai
simbol kemerdekaan, tetapi juga menjadi pengikat rasa persaudaraan dari satu
daerah ke daerah lainnya.
Usai memimpin upacara, Gubernur Iqbal bersama Wakil Gubernur
NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri dan Sinta Agathia kemudian menghampiri
masyarakat asal NTT yang menggelar aksi teatrikal di luar halaman Kantor
Gubernur NTB.
Para peserta membentangkan spanduk bertuliskan #PRAYFORNTT
serta logo “Solidaritas KR–BNN Bali–NTB–NTT” sebagai bentuk keprihatinan dan
dukungan atas bencana yang melanda NTT.
Gubernur Iqbal juga mengajak para peserta dan masyarakat
yang hadir untuk bersama-sama memanjatkan doa bagi masyarakat NTT yang
terdampak gempa.
“Melalui momentum ini, secara khusus saya mengajak seluruh
peserta upacara untuk mendoakan warga Nusa Tenggara Timur yang dilanda gempa
bumi,” kata Gubernur.
Ia mendoakan agar masyarakat yang terdampak diberikan
kekuatan dan ketabahan, sementara mereka yang menjadi korban jiwa mendapatkan
tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Doa itu bukan sekadar ungkapan belasungkawa. Bagi Gubernur
Iqbal, solidaritas harus hadir dalam bentuk nyata. NTB yang pernah merasakan
dahsyatnya gempa pada 2018 memahami betul bagaimana rasanya berada dalam
situasi kehilangan, ketakutan, dan ketidakpastian.
“Tahun 2018 kita menghadapi gempa luar biasa di NTB. Kita
adalah salah satu daerah yang paling tahu rasanya menghadapi situasi berat
seperti itu. Kita paling paham bagaimana pentingnya solidaritas dari
saudara-saudara kita,” ujarnya.
Pesan persaudaraan itu kemudian menemukan maknanya dalam
aksi anak-anak muda yang menggambarkan hubungan persaudaraan NTB, NTT, dan
Bali. Mereka menghadirkan pesan bahwa ketika satu saudara tertimpa bencana,
saudara lainnya tidak boleh berpaling.
Dalam suasana duka yang tengah dirasakan masyarakat NTT,
aksi tersebut menggambarkan bagaimana persaudaraan harus hadir untuk saling
menguatkan, membantu, dan memastikan bahwa mereka yang sedang menghadapi
bencana tidak merasa sendirian.
Bagi NTB, pesan tersebut bukan sekadar rangkaian kegiatan
dalam peringatan HUT RI. Ia menjadi cermin dari makna kemerdekaan yang
dirayakan hari itu, bahwa kemerdekaan tidak hanya tentang terbebas dari
penjajahan, tetapi juga tentang kesediaan untuk berdiri bersama ketika saudara
sebangsa sedang menghadapi kesulitan.
“Satu sakit, yang lain ikut merasakan sakit. Kita bangun
rasa persaudaraan dan solidaritas antardaerah,” tegas Gubernur Iqbal.
Semangat tersebut juga menjadi dasar langkah kemanusiaan
Pemprov NTB yang bergerak membantu penanganan bencana di NTT. Berbagai unsur
dikerahkan dalam satu misi kemanusiaan, mulai dari BPBD, TNI-Polri, tenaga
kesehatan, rumah sakit, perguruan tinggi, dunia usaha hingga relawan.
“Ini yang hadir bukan lagi atas nama instansi, melainkan
atas nama satu NTB,” kata Gubernur.
Dari Lapangan Bumi Gora pada peringatan HUT ke-81
Kemerdekaan RI, pesan itu menemukan maknanya: kemerdekaan dirayakan dengan
mengibarkan merah putih, tetapi kemanusiaan diwujudkan dengan mengulurkan
tangan. (*)

