![]() |
| Para pembalap bersiap di garis Star |
Direktur Operasi MGPA, Donny Mahardjono, mengatakan evaluasi diperlukan agar penyelenggaraan Kejurnas balap mobil di Pertamina Mandalika International Circuit tetap mampu mengakomodasi perkembangan peserta tanpa mengorbankan aspek keselamatan dan kualitas kompetisi.
Menurutnya, format kejuaraan yang diterapkan saat ini masih menjadi acuan. Sejumlah kelas, seperti ITCR 1200 cc, ITCR 1500 cc, dan ITCR 3600 cc, serta kelas pendukung lainnya, termasuk Lampera Agia, Triple S, dan Time Attack, masih menjadi bagian dari struktur kompetisi yang akan dievaluasi untuk musim berikutnya.
“Secara prinsip, format kejuaraan yang ada saat ini masih menjadi acuan. Namun, kami juga melihat perkembangan jumlah peserta dan kebutuhan di lintasan. Jika jumlah peserta terus bertambah, tentu perlu ada evaluasi agar pembagian kelas, kapasitas grid, dan jadwal balapan bisa lebih ideal, dengan tetap mengutamakan keselamatan,” ujarnya.
Salah satu perhatian utama MGPA adalah kelas ITCR 1200 cc yang berpotensi mengalami peningkatan jumlah peserta. Dengan kapasitas grid yang terbatas, pertambahan peserta dapat menjadi tantangan tersendiri apabila seluruh pembalap harus berlaga dalam satu kelas yang sama.
Dony menilai, jika tren tersebut berlanjut pada musim depan, opsi memecah satu kelas menjadi dua kelas berbeda berpeluang masuk dalam pembahasan. Skema ini diharapkan dapat memberikan ruang kompetisi yang lebih proporsional sekaligus menjaga kelancaran balapan.
Meski demikian, penambahan kelas bukan perkara sederhana. Perubahan tersebut akan berdampak langsung pada jadwal penyelenggaraan yang sudah cukup padat. Karena itu, MGPA perlu mengkaji berbagai aspek teknis sebelum mengusulkan perubahan format kompetisi.
“Penambahan kelas tentu harus dihitung secara matang. Kami tidak hanya melihat jumlah pesertanya, tetapi juga bagaimana dampaknya terhadap keseluruhan jadwal. Jangan sampai pembagian kelas menjadi lebih ideal, tetapi justru membuat rangkaian balapan terlalu padat. Semua harus diperhitungkan agar kompetisi berjalan efektif dan aman,” jelasnya.
Dony menegaskan, selain kapasitas grid, evaluasi juga berpotensi menyasar pembagian kategori di kelas ITCR 1200 cc. Saat ini, beberapa kategori masih tergabung dalam satu kelas, meskipun penentuan juara dapat dilakukan berdasarkan klasifikasi keseluruhan atau overall.
Ke depan, pemisahan kategori dapat menjadi salah satu opsi untuk menciptakan jenjang kompetisi yang lebih terstruktur dan memberikan ruang persaingan yang lebih proporsional bagi para peserta. Namun, skema tersebut tetap harus mempertimbangkan kebutuhan waktu serta dampaknya terhadap jadwal balapan.
Rencana penyesuaian ini akan dibahas bersama IMI dan pihak-pihak terkait. MGPA akan memberikan masukan berdasarkan kondisi teknis di lapangan, termasuk kapasitas peserta, kebutuhan grid, serta konsekuensi perubahan format terhadap keseluruhan rangkaian kejuaraan.
Dari sisi regulasi, ketentuan yang telah ditetapkan untuk satu musim pada prinsipnya berlaku sejak putaran pertama hingga putaran terakhir. Perubahan di tengah musim perlu mempertimbangkan berbagai aspek, terutama keselamatan. Sementara itu, penyesuaian regulasi olahraga dan format kompetisi akan menjadi bagian dari pembahasan untuk musim berikutnya.
“Untuk regulasi yang sudah ditetapkan dalam satu musim, pada prinsipnya pelaksanaannya tetap mengacu pada ketentuan tersebut. Jika ada kebutuhan perubahan format atau pembagian kelas, pembahasannya akan kami bawa bersama IMI untuk persiapan musim depan. Harapannya, keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan kebutuhan kompetisi dan kondisi teknis di lapangan,” ungkapnya.
Tak hanya format kelas, jumlah putaran Kejurnas balap mobil musim depan juga menjadi salah satu agenda evaluasi. Saat ini, opsi penyelenggaraan masih berkisar antara tiga atau empat putaran. Penentuan jumlah putaran perlu mempertimbangkan persyaratan kejuaraan, termasuk ketentuan minimal tiga putaran untuk sebuah championship, serta kemungkinan terjadinya kendala yang dapat memengaruhi pelaksanaan salah satu putaran.
“Seluruh usulan teknis tersebut selanjutnya akan dibahas melalui rapat kerja bersama pihak-pihak terkait sebelum difinalisasi dan disahkan oleh IMI sesuai mekanisme regulasi yang berlaku,” tambahnya.
Di sisi lain, musim mendatang juga berpeluang menghadirkan warna baru dalam penyelenggaraan MFOS. Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah keikutsertaan kelas open-wheel melalui Formula IDN.
Apabila terealisasi, kehadiran kelas tersebut akan menambah variasi kompetisi di Mandalika. Namun, integrasinya ke dalam rangkaian MFOS juga memerlukan kajian lebih lanjut, terutama terkait penyesuaian jadwal, kebutuhan teknis, dan kesiapan penyelenggaraan.
MGPA berharap berbagai evaluasi tersebut dapat menghasilkan format Kejurnas balap mobil yang lebih adaptif terhadap perkembangan peserta dan kebutuhan kompetisi. Dengan pembagian kelas yang tepat, pengelolaan jadwal yang efisien, serta penerapan standar keselamatan yang konsisten, MFOS diharapkan mampu terus berkembang sebagai ajang balap nasional yang kompetitif dan berkualitas.
“Tantangan musim depan bukan sekadar menambah jumlah peserta atau kelas yang dipertandingkan, melainkan memastikan setiap perubahan memberikan dampak positif bagi keberlangsungan kompetisi dan perkembangan olahraga otomotif Nasional,” tutupnya. (Man)

